PRODUKSI BELATUNG (MAGGOT)
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pakan ikan secara fungsional dibagi menjadi tiga, yaitu pakan untuk benih, pembesaran dan pakan untuk induk. Pakan untuk pembesaran diperlukan dalam porsi sangat besar dan kecenderungannya
dari segi harga makin mahal. Fenomena ini merupakan implikasi dari semakin menurunnya sumber daya alam sebagai bahan pakan untuk pembesaran, dan juga adanya kompetisi penggunaan yaitu sebagai sumber pangan untuk konsumsi manusia serta sumber pakan pada usaha peternakan.
Sumber pakan untuk usaha pembesaran ikan yang selama ini dikembangkan adalah, pertama: pakan ikan yang terdiri dari berbagai bahan, kemudian dibentuk dalam bentuk bubur, pasta atau pelet; kedua: silase ikan; ketiga: trash
fish dan
animal offal. Dari ketiga sumber pakan ini diprediksi ke depan akan semakin langka seiring semakin intensifnya usaha produksi pembesaran ikan. Terkait dengan permasalahan ini perlu dicari sumber pakan alternatif
yang sesuai
dengan
kebutuhan
ikan dengan ketersediannya
dapat diusahakan dalam jumlah banyak.
Limbah organik pertanian di Indonesia
tersedia
dalam jumlah banyak, seperti limbah Palm
Kernel Milt (PKM)
dan ampas tahu. Kedua limbah ini yang memanfaatkan baru para petenak untuk makanan hewan mamalia, namun untuk makanan ikan belum. Bahan ini masih memiliki kandungan
protein cukup
tinggi,
seperti
PKM kandungan proteinnya sekitar 18% dan ampas tahu sekitar 15%. Namun protein ini tidak bisa langsung dimanfaatkan
oleh ikan, karena sistem pencernaannya
termasuk
monogastric.
Untuk meningkatkan nilai gizi limbah tersebut dapat dirombak melalui
proses biologis,
yaitu digunakan sebagai
media dan
sumber
makanan
belatung,
sehingga
akan diperoleh bahan berupa belatung yang
memiliki
kandungan
gizi cukup lengkap dengan kandungan
protein lebih
dari
42%. Kelebihan lain dari belatung ini memiliki kandungan antimikroba dan anti jamur, sehingga apabila dikonsumsi oleh ikan akan tahan terhadap penyakit bakterial dan jamur.
Dari proses biologis ini, bahan limbah yang merupakan
media dan
sisa
proses metabolisme
belatung
dapat dijadikan sebagai sumber pakan ikan. Bahan pakan ini dapat dicerna oleh ikan dan memiliki kandungan nutrien cukup tinggi.
Oleh karenanya akan dilakukan perekayasaan
kultur
belatung
dengan
memanfaatkan
media limbah
organik
PKM dan ampas tahu.
1.2 Tujuan dan Sasaran
Untuk mendapatkan model teknik kultur belatung dan dapat diketahui
media kultur
yang terbaik
sehingga
diperoleh
produksi
belatung
yang tinggi.
Melalui kegiatan perekayasaan
ini ditargetkan produksi belatung sebanyak 100 kg per bulan pemeliharaan
II. METODOLOGI
Kegiatan akan dilaksanakan pada bulan April sampai Desember Tahun Anggaran 2005
di Laboratorium
Pakan,
dan Workshop Pakan BBAT Sukabumi, Jawa Barat (Lampiran 1).
II.2 Bahan dan Peralatan
Bahan yang diperlukan untuk perekayasaan ini adalah : induk lalat, ikan untuk media peneluran lalat, media
kultur
maggot terdiri dari PKM dan hampas tahu, buah-buahan untuk makanan lalat.
Peralatan terdiri dari : kandang lalat, scope
net, baki
plastik,
petri
dish, hand sprayer, stoples plastik, drum plastik,
blender, freezer box, refrigerator, kantong plastik, sepatu boat, sarung tangan, timbangan, termometer dan peralatan panen maggot.
II.3 Metode Kerja
Ada dua metode kultur maggot yang akan diuji, yaitu:
1. Pemeliharaan maggot secara terbuka dan,
2. Secara tertutup.
Ada dua metode kultur magot yang akan diuji yaitu, pertama pemeliharaan
magot secara terbuka dan, kedua secara tertutup. Untuk metode pemeliharaan terbuka prosedur kerjanya sebagai berikut :
-
Telur diperoleh dari lalat liar atau serangga bunga. Untuk merangsang agar lalat mau bertelur dilakukan dengan menempatkan ikan mati yang sudah dipotong-potong kemudian disimpan dalam wadah seperti baki plastik atau petridish
yang selanjutnya
ditempatkan
dalam ruang terbuka.
-
Setelah diperoleh telur, kemudian disimpan dalam media kultur magot. Salah satu media
yang digunakan
adalah
palm kerneal
meal (PKM).
Sebelum
dijadikan
sebagai
media kultur,
terlebih
dahulu
dilakukan
proses fermentasi
pada PKM. Proses fermentasi PKM adalah sebagai berikut : bungkil sawit sebanyak 40
kg, dicampur
air 20 kg dan
mikroba
dari dalaman lambung mamalia (kambing atau kerbau) sebanyak
10-20%, kemudian
dimasukan
ke dalam tong plastik. Selanjutnya ditutup rapat dan ditimbun sekam padi untuk mempertahankan
suhu. Proses fermentasi ini memerlukan waktu selama satu bulan, dan selanjutnya bahan PKM yang sudah terfermentasi
dijadikan
sebagai
media kultur
magot.
-
Wadah yang digunakan untuk pemeliharan
larva magot
menggunakan
baskom
plastik
dan
fibre glass. Tiap perlakuan diisi 15 kg bahan media kultur. Dengan perlakuan media kultur sebagai berikut :
o Perlakukan
A : PKM
(100%) dan
ampas tahu (0%)
o Perlakuan
B : PKM (50%) dan ampas tahu (50%)
o Perlakuan
C : PKM (0%) dan ampas tahu (100%)
Semua perlakukan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali.
-
Khusus untuk larva magot dari lalat hijau, pemeliharaan dalam media kultur dilakukan selama 4-5 hari. Setelah itu magot dapat dipanen, dengan cara dipisahkan dari media kultur dan berbagai kotoran lainnya. Adapun untuk larva magot dari serangga bunga pemeliharaan dalam media kultur memerlukan waktu 5-7 hari. Cara pemanenan sama halnya dengan magot lalat hijau.
-
Jumlah magot yang diperoleh kemudian ditimbang, demikian pula halnya dengan media kultur pada awal pemeliharaan dilakukan penimbangan.
-
Analisa proksimat dilakukan pada magot dan media kultur.
Sedangkan prosedur kerja pada pemeliharaan tertutup, secara umum prosedur pekerjaan sama dengan pada metode terbuka, perbedaan hanya pada metode pemeliharaan lalat yang digunakan sebagai sumber telur. Pada metode tertutup ini, lalat dan serangga bunga dipelihara dalam kandang lalat. Kandang berbentuk kotak terbuat dari kawat, dengan pinggirannya dibingkai oleh besi siku berukuran 1,5 x 1,2 x 2 m.
Induk lalat hijau (Calliphora sp) dan serangga bunga (Hermetia
illucens)
diperoleh
dengan
cara menetaskan
pupa dalam
kandang
lalat. Kemudian dipelihara, dengan cara diberi makan berupa juice buah-buahan. Setiap hari yaitu waktu pagi dan sore hari disemprotkan
air.
Untuk Calliphora sp, peneluran dilakukan dengan cara menyimpan potongan ikan mati yang dimasukkan ke dalam kandang lalat. Setiap kandang diisi potongan ikan mati sebanyak 2-5 bagian yang ditempatkan menyebar secara merata. Adapun untuk Hermetia
illucens
dengan
cara menyimpan PKM yang sudah difermentasi. Apabila sudah diperoleh telur, kemudian ditetaskan dalam media pemeliharaan
magot.
IV. HASIL dan PEMBAHASAN
IV.1 HASIL
IV.1.1 Produksi Magot
Calliphora sp
Produksi magot Calliphora sp dari
cara pemeliharaan secara terbuka disajikan pada Tabel
1, hasil sistem tertutup disajikan pada Tabel 2
dan hasil produksi dalam selang 17 hari dari setiap wadah disajikan pada
Tabel 3.
Tabel 1. Produksi magot Calliphora sp umur
4 hari dalam bobot basah (kg) pada sistem pemeliharaan terbuka
|
No
|
Jenis media
kultur (15 kg/wadah)
|
Ulangan
|
Rata-rata
| ||
|
1
|
2
|
3
|
|||
|
1
|
PKM (100%) dan ampas tahu (0%)
|
0,5
|
0,7
|
0,5
|
0,566
|
|
2
|
PKM (50%) dan ampas tahu (50%)
|
5,0
|
5,5
|
5,0
|
5,166
|
|
3
|
PKM (0%) dan ampas tahu (100%)
|
9,7
|
9,5
|
10,0
|
9,73
|
Tabel 2. Produksi magot
Calliphora sp umur 4 hari dalam bobot basah
(kg) pada sistem pemeliharaan tertutup
|
No
|
Jenis media
kultur (15 kg/wadah)
|
Ulangan
|
Rata-rata
| ||
|
1
|
2
|
3
|
|||
|
1
|
PKM (100%) dan ampas tahu (0%)
|
0,4
|
0,5
|
0,5
|
0,46
|
|
2
|
PKM (50%) dan ampas tahu (50%)
|
0,5
|
0,5
|
0,4
|
0,46
|
|
3
|
PKM (0%) dan ampas tahu (100%)
|
1
|
1,5
|
1
|
1,16
|
Tabel 3. Produksi
magot Calliphora sp umur 4
hari dalam bobot basah (kg) pada sistem pemeliharaan terbuka selama 17
hari menggunakan limbah ampas tahu (15 kg/wadah)
|
No
|
Tanggal panen
|
Hasil magot (kg)
|
Cuaca pada saat koleksi telur
|
|
1
|
27 Mei 05
|
10
|
terang
|
|
2
|
28 Mei 05
|
9
|
terang
|
|
3
|
30 Mei 05
|
9
|
terang
|
|
4
|
31 Mei 05
|
9
|
terang
|
|
5
|
01 Juni 05
|
10
|
terang
|
|
6
|
02 Juni 05
|
8
|
terang
|
|
7
|
03 Juni 05
|
10
|
terang
|
|
8
|
04 Juni 05
|
10
|
terang
|
|
9
|
05 Juni 05
|
10
|
terang
|
|
10
|
06 Juni 05
|
7
|
mendung
|
|
11
|
07 Juni 05
|
5
|
mendung
|
|
12
|
08 Juni 05
|
5
|
mendung
|
|
13
|
09 Juni 05
|
7
|
mendung
|
|
14
|
10 Juni 05
|
5
|
gerimis
|
|
15
|
11 Juni 05
|
7
|
Hujan
|
|
16
|
12 Juni 05
|
3
|
hujan
|
|
17
|
14 Juni 05
|
10
|
terang
|
|
Total
produksi magot :
|
134
| ||
|
Rata-rata per hari :
|
7,9
| ||
IV.1.2 Produksi magot Hermetia
illucens
Produksi magot Hermetia
illucens dengan dengan sistem pemeliharaan secara terbuka disajikan
pada Tabel 4, produksi dengan sistem
pemeliharaan tertutup disajikan pada Tabel 5 dan hasil produksi rutin
dalam selang waktu bulan Nopember dan Desember disajikan pada Tabel 6
Tabel
4. Produksi magot Hermetia illucens umur 7 hari dalam bobot basah (kg) pada
sistem pemeliharaan terbuka
|
No
|
Jenis
media kultur (15 kg/wadah)
|
Ulangan
|
Rata-rata
| ||
|
1
|
2
|
3
| |||
|
1
|
PKM (100%) dan ampas tahu (0%)
|
7,0
|
10,0
|
8,5
|
8,5
|
|
2
|
PKM
(50%) dan ampas tahu (50%)
|
5,0
|
4,0
|
4,5
|
4,5
|
|
3
|
PKM (0%) dan ampas tahu (100%)
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Tabel 5. Produksi magot Hermetia illucens
umur 7 hari dalam bobot basah (kg) pada sistem pemeliharaan
tertutup
|
No
|
Jenis
media kultur (15 kg/wadah)
|
Ulangan
| ||
|
1
|
2
|
3
| ||
|
1
|
PKM
(100%) dan ampas tahu (0%)
|
-
|
-
|
-
|
|
2
|
PKM
(50%) dan ampas tahu (50%)
|
-
|
-
|
-
|
|
3
|
PKM
(0%) dan ampas tahu (100%)
|
-
|
-
|
-
|
Tabel
6. Produksi magot Hermetia illucens umur
7 hari dalam bobot basah (kg) pada sistem pemeliharaan terbuka selama
bulan Nopember-Desember (15 kg PKM/wadah)
|
No
|
Tanggal
Pemanenan
|
Hasil magot (kg)
|
|
1.
|
02 Nopember
|
9
|
|
2.
|
09
Nopember
|
9
|
|
3.
|
11
Nopember
|
5
|
|
4.
|
15
Nopember
|
9
|
|
5.
|
18
Nopember
|
14
|
|
6.
|
24
Nopember
|
9
|
|
7.
|
03
Desember
|
8
|
|
8.
|
05
Desember
|
11
|
|
9.
|
13
Desember
|
9
|
|
10.
|
23
Desember
|
8
|
|
Jumlah produksi :
|
91
| |
|
Rata-rata
per hari :
|
9,1
| |
IV.1.3 Analisa Proksimat
Hasil analisa proksimat magot,
PKM sebelum difermentasi dan setelah difermentasi disajikan pada Tabel
7.
Tabel 7. Kandungan proksimat magot,
PKM awal dan PKM fermentasi
| |
Calliphora sp
|
Hermetia illucens
|
PKM awal
|
PKM fermentasi
|
|
Kadar air (%)
|
8,25
|
25,07
|
14,28
|
61,85
|
|
Kadar abu (%)
|
14,35
|
7,78
|
4,08
|
1,58
|
|
Protein (%)
|
41,42
|
31,09
|
16,71
|
17,86
|
|
Lemak (%)
|
14,30
|
5,47
|
6,15
|
12,79
|
|
Serat kasar (%)
|
2,73
|
8,77
|
22,49
|
0,04
|
|
BETN (%)
|
18,95
|
21,82
|
36,29
|
5,89
|
|
Dalam bobot
kering (kadar air 0%) :
| ||||
|
Kadar abu (%)
|
15,64
|
10,38
|
4,75
|
4,14
|
|
Protein (%)
|
45,14
|
41,49
|
19,50
|
46,80
|
|
Lemak (%)
|
15,58
|
7,30
|
7,17
|
33,52
|
|
Serat kasar (%)
|
2,97
|
11,70
|
26,24
|
0,10
|
|
BETN (%)
|
20,67
|
29,13
|
42,34
|
15,44
|
Ket. : BETN : bahan ekstrak
tanpa nitrogen
IV.2 PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil perekayasaan
ini teknik kultur magot pada sistem terbuka produksinya jauh lebih
tinggi dibandingkan dengan sistem tertutup. Bahkan
pada Hermetia illucens yang dipelihara secara tertutup
tidak berhasil mendapatkan telur, karena sebagian besar induknya yang
dipelihara dalam kandang banyak ditemukan mati.
Tingginya produksi magot pada sistem terbuka, dimungkin
karena serangga yang diluar lebih survive dibanding dengan serangga yang
ada dalam kandang. Selain itu, serangga
atau lalat yang di alam akan mendapatkan makanan
sesuai dengan yang disukai dan dari segi gizi lebih lengkap sesuai
dengan kebutuhannya, sehingga akan mendukung dalam aktivitas reproduksi
yang pada akhirnya akan diperoleh jumlah telur lalat
atau serangga yang cukup memadai.
Pemeliharaan magot nampaknya
sangat dipengaruhi oleh jenis media kultur. Magot
jenis Calliphora sp lebih menyukai ampas tahu
dibandingkan dengan PKM, sedangkan magot jenis Hermetia
illucens lebih menyukai PKM. Hal ini telihat
dari produksi magot pada Calliphora sp tertinggi dicapai
pada media kultur ampas tahu, dengan rata-rata produksi sebanyak 9,73
kg , sedangkan pada media kultur PKM hanya diperoleh magot sebanyak 0,57
kg dan campuran keduanya 5,17 kg dengan jumlah
media kultur masing-masing sebanyak 15 kg per wadah. Namun
sebaliknya Hermetia illucens lebih menyukai PKM sebagai media kultur
dibandingkan dengan ampas tahu atau campuran keduanya.
Nampakanya perilaku serangga
dalam menempatkan telur ada kaitannya dengan ketersediaan makanan yang
cocok untuk kehidupan magot, dan jenins makanan ini nampaknya sangat spesifik. Hal ini
mungkin bergantung pada bau, cita rasa dan kandungan gizi dari media
kultur.
Berdasarkan data dari hasil produksi magot dengan
pemberian media kultur tunggal sebanyak 15 kg per wadah pemeliharaan,
yaitu PKM atau ampas tahu saja, dihasilkan produksi magot Calliphora
sp sebanyak 134 kg per 17 kali panen, dengan waktu siklus produksi 17
hari, atau rata-rata produksi per hari sebanyak
7,9 kg; dan magot Hermetia illucens sebanyak 91 kg per
10 kali panen dengan waktu siklus produksi selama 51 hari, atau
rata-rata produksi per haria sebesar 1,78 kg. Dari
hasil perekayasaan ini nampak Calliphora sp
pertumbuhannya lebih cepat, sebesar 4,4 kali dibanding dengan Hermetia illucens. Sehingga apabila
menginginkan produksi masal maka yang cepat pertumbuhannya adalah Calliphora sp. Namun dilihat dari
segi aspek lingkungan dan kesehatan manusia, nampaknya Hermetia
illucens lebih mudah diterima oleh masyarakat, karena peluang untuk
sebagai penyebar penyakit tidak ada.
Hermetia illucens dalam siklus hidupnya tidak hinggap dalam
makanan yang langsung dikonsumsi manusia. Dalam
usia dewasa makanan utamanya adalah sari bunga,
sedangkan pada usia muda makanannya berasal dari cadangan makanan yang
ada dalam tubuhnya. Perkembangbiakan dilakukan
secara seksual, yang betina mengandung telur, kemudian telur diletakan
pada permukaan yang bersih, namun berdekatan dengan sumber makanan yang
cocok untuk larva. Larva kecil
sangat memerlukan banyak makanan untuk tumbuh sehingga menjadi pupa. Sumber makanan yang paling disukai nampaknya adalah
PKM yang sudah terfermentasi. Dengan demikian
prospek untuk pengembangan magot sebagai pakan ikan lebih aman adalah Hermetia illucens.
Proses fermentasi sangat efektif
dalam mencerna serat kasar yang susah dicerna oleh hewan monogastric. Sebagaimna data yang tercantum pada Tabel 7 kandungan
serat kasar PKM sebelum fermentasi sebesar 26,24%
dan setelah fermentasi 0,10%. Selain itu ada
peningkatan kandungan protein dan lemak yang cukup signifikan, sebelum
fermentasi sebesar 19,50% dan 7,17%
sedangkan setelah fermentasi menjadi 46,80% dan 33,52%. Melihat kandungan proksimat PKM frementasi ini sangat
cocok untuk dijadikan sebagai bahan baku untuk pakan magot. Salah satu yang diperlukan adalah kandungan protein
dan lemaknya cukup tinggi, untuk sebagai cadangan makanan pada saat
hibernasi, metamorfosis dan cadangan makanan pada usia serangga muda.
Komposisi proksimat magot cukup
sesuai untuk dijadikan sebagai makanan ikan. Dilihat
dari kandungan proksimatnya mengandung protein lebih dari 40%,
kandungan lemak cukup tinggi dan yang lebih khusus pada magot adalah
memiliki enzim dan antimikroba. Sehingga akan
mudah dicerna oleh semua jenis ikan dan kemungkinan besar akan
meningkatkan daya tahan tubuh pada ikan.
Berdasarkan hasil kajian pustaka, magot ini telah banyak diaplikasikan untuk pakan
unggas (Awoniyi, et al. 2003
Zuidhof, et al. 2003), ikan lele (Fasakin, et al. 2003 dan Madu and
Ufodike, 2003). Dari beberapa penelitian
sebelumnya magot dapat mensubstitusi tepung ikan
pada pakan ayam (Awoniyi, et al, 2003) dan pada
ikan lele (Fasakin, et al. 2003)
V.
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil perekayasaan
ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
-
Model kultur
magot yang dapat menghasilkan produksi yang tinggi adalah sistem kultur
terbuka dibandingkan sistem tertutup. Dengan
model ini, dapat diproduksi magot jenis Callipora sp
dalam waktu produksi 17 hari dengan media kultur sebanyak 255 kg,
diperoleh magot sebanyak 134 kg, sedangkan untuk jenis Hermetia
illucens dalam waktu produksi 51 hari dengan media kultur sebanyak
150 kg, diperoleh magot sebanyak 91 kg.
-
Media kultur
yang terbaik untuk magot jenis Calliphora sp
adalah ampas tahu, sedangkan untu jenis Hermetia
illucens adalah bungkil sawit (PKM) yang sudah difermentasi.
V.2 Saran
Berdasarkan hasil perekayasaan
ini, disarankan :
- Jenis magot untuk dikembangkan secara massal yang terbaik
adalah Hermetia illucens dibandingkan dengan Calliphora
sp. Karena Hermetia illucens
pada usia dewasa dalam kebiasaan hidupnya tidak hinggap dalam makanan
manusia dan sebagai makanan utamanya adalah saribunga. Sedangkan
Calliphora sp biasanya makanan utamanya adalah binatang yang sudah
menjadi bangkai.
-
Dilihat dari
kandungan proksimatnya, magot ini dapat dijadikan sumber protein
alternatif tepung ikan, sehingga ada harapan mendapatkan protein hewani
yang berkelanjutan dengan memanfaatkan limbah industri pertanian, yaitu
limbah sawit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar