Budidaya perairan merupakan suatu kegiatan
pemeliharaan organisme akuatik dalam lingkungan terkontrol dengan tujuan
mendapatkan keuntungan. Salah satu faktor pembatas utama pada kegiatan
pemeliharaan ikan, khususnya kegiatan budidaya perikanan secara massal
dan intensif adalah pakan. Pakan ikan merupakan
faktor penting dalam menunjang keberhasilan usaha budidaya. Biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan pakan relatif
besar mencapai 35-60% dari total produksi.
Dengan mulai
beralihnya kegiatan usaha budidaya ikan dari untuk pemenuhan kebutuhan
sendiri menjadi usaha komersial dan dari usaha yang bersifat tradisional
menjadi semakin intensif, maka faktor penyediaan pakan menjadi faktor
yang menentukan keberhasilan suatu usaha. Penyediaan
pakan sering menjadi kendala, disamping faktor biaya yang tinggi,
kualitas pakan yang tersedia juga tidak selalu sesuai dengan kebutuhan
nutrisi yang diperlukan. Penyediaan pakan yang
tidak sesuai dengan jumlah dan kualitas yang dibutuhkan ikan menyebabkan
laju pertumbuhan ikan menjadi terhambat. Akibatnya
produksi yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Akibat lain dari pemberian pakan yang tidak sesuai
adalah dampak buruk terhadap lingkungan akibat banyaknya sisa pakan yang
terbuang.
Pakan Ikan dan Permasalahannya
Dewasa ini sudah
banyak beredar pakan buatan untuk ikan dengan merek, harga dan kualitas
yang sangat bervariasi. Namun harga pakan ikan
air tawar masih relatif mahal, bila membeli 1 karung berisi 30 Kg
sekitar Rp. 106.000,- atau mengecer per 1 Kg antara Rp. 4000,- --Rp. 5000,-. Yang menjadi
pertanyaan kenapa harga pakan ikan mahal? Bagaimana cara mensiasatinya
agar usaha budidaya ikan tetap untung?
Melonjaknya harga pakan
ikan tidak terlepas dari kondisi bangsa Indonesia yang hingga kini masih
impor tepung ikan untuk bahan baku pakan.volume impor rata-rata 32.000
ton per bulan atau 384.000 ton per tahun. Hal tersebut meliputi untuk
pakan ternak 60% dan 40% untuk pakan ikan. Tepung
ikan impor menguasai 80% dari total kebutuhan pakan nasional. Belum
lagi bahan baku pakan yang lainnya harus berkompetisi dengan konsumsi
manusia seperti tepung terigu, vitamin, mineral dan sebagainya.
Pembudidaya ikan sebagian
besar hingga saat ini masih mengandalkan pelet sebagai pakan ikan,
karena selain mudah diperoleh dan awet serta langsung dapat diberikan
pada ikan peliharaan. Namun secara finansial sudah barang tentu akan meningkatkan
biaya produksi. Untuk
menekan biaya produksi, para pembudidaya kadang-kadang memilih harga
pakan yang lebih murah dimana tidak memiliki kandungan nutrisi yang
memenuhi standar.
Pembuatan Pakan Sendiri (On
Farm Feed)
Mengingat biaya pakan yang relatif tinggi, maka
perlu dicarikan alternatif pemecahannya untuk dapat menekan biaya
produksi tersebut. Upaya yang dilakukan adalah
dengan membuat pakan buatan sendiri melalui teknik yang sederhana dengan
komposisi/formulasi yang tepat.
Untuk menjawab permasalahan itu diperlukan bahan
pakan alternatif alami, yang salah satunya adalah belatung atau maggot. Maggot sebenarnya adalah larva yang berasal dari
telur lalat yang mengalami proses metamorfosis
tahap kedua setelah fase telur dan sebelum fase pupa yang kemudian
berubah menjadi lalat. Larva itu umumnya hidup
pada daging yang membusuk. Khalayak umum biasanya
menyebutnya belatung. Mungkin secara umum belatung sangat menjijikan,
akan tetapi nilai manfaatnya sangat tinggi.erbanyakannya maggot dapat dilakukan dengan mudah yaitu menggunakan media limbah bungkil kelapa sawit. Dari 4 Kg bungkil kelapa sawit kering dapat dihasilkan 1 kg daging maggot yang mengandung potein 40%. Caranya adalah membasahi bungkil kelapa sawit dengan air, kemudian disimpan dalam wadah besar dan dibiarkan terbuka selama 3-4 hari. Saat itulah, datang serangga buah ke dalam kaleng dan bertelur. Selang dua-sampai tiga pekan berikutnya telur serangga tersebut memproduksi belatung (maggot). Maggot itu nantinya dikeringkan dan digiling menjadi tepung. Tepung maggot dapat menjadi pengganti tepung ikan sebagai bahan baku pembuatan pakan.
Bagaimana halnya dengan
usaha perikanan di daerah-daerah yang notabene sumberdaya kelapa
sawitnya tidak ada? Berbagai bahan lokal sebagai pengganti bungkil
kelapa sawit banyak terdapat di sekitar lokasi budidaya. Pembudidaya
ikan dapat mensiasati dengan memanfaatkan limbah industri yang relatif
murah dan mudah diperoleh. Limbah industri yang
biasanya hampir terdapat di setiap daerah adalah limbah ampas tahu.
Dengan memegang prinsip bahwa larva maggot hidup pada daging yang
membusuk, kita dapat memanfaatkan daging keong mas yang terkadang
menjadi hama baik di sawah maupun kolam.
Pemanfaatan keong mas
didasari bahwa murah, mudah diperoleh dan tidak berkompetisi dengan
konsumsi manusia seperti halnya ikan asin atau ikan lainnya. Keberadaan keong mas diperlukan sebagai daya tarik
lalat untuk bertelur pada media tersebut. Prinsip produksi maggot dengan
media ampas tahu tidak jauh berbeda dengan menggunakan media kelapa
sawit. Pemanfaatan berbagai macam media tidak
mempengaruhi kandungan protein dari belatung itu sendiri.
Teknologi produksi belatung
atau maggot ini merupakan teknologi yang murah, ramah lingkungan dan
mudah diaplikasikan oleh segenap lapisan masyarakat. Hanya
saja yang perlu diperhatikan adalah lokasi produksi belatung, tidak
terlalu dekat dengan pemukiman. Hal ini untuk
menghindari bau yang tidak sedap yang dapat menggangu masyarakat di
sekitarnya.